A Note from the Curator
Kartu Pos, Kamu Memang Keren, Bos!
Kapan terakhir kali melihat karya seni dalam selembar kartu pos? Kalau menurut saya karya seni dalam selembar kartu pos bisa jadi adalah bentuk karya seni yang bisa langsung dipamerkan ke publik saat dia berpindah dari satu tangan ke tangan lain dari sejak masuk kantor pos hingga tiba di alamat penerima. Kartu pos dengan gambar yang menarik kemudian malah dikoleksi bahkan dibingkai dan diletakkan untuk menghias dinding-dinding rumah ataupun kamar. Ini pengalaman pribadi juga tentu saja.
Dan waktu saya browse di internet tentang proyek seni yang menggunakan kartu pos sebagai mediumnya yang ada di dunia sepanjang tahun ini, jumlahnya langsung membuat saya terkesima! Ada 3.310.000 proyek! Bayangkan banyaknya kartu pos yang dibuat, dikirim dan berpindah tangan setiap harinya untuk bisa dinikmati orang-orang dengan mudah dan tentu saja murah, karena memang kartu pos awalnya dibuat sebagai media berkomunikasi yang lebih murah biaya pengirimannya daripada surat biasa.
Dan bukan itu saja, dengan begitu banyaknya proyek karya seni dengan menggunakan medium kartu pos di luar sana bukankah sebagai seniman pembuatnya itu juga mempermudah kita dalam hal produksi dan pengiriman karya? Dan juga kesempatan untuk saling bertukar karya dengan seniman lain misalnya yang dulu dikenal dengan sebutan ATC (Art Trading Card) menjadi makin menyenangkan dan lebih sering dilakukan pula.
Karena itu saya bisa mengerti kenapa seorang Mark Ryden (www.markryden.com) misalnya, tetap merasa perlu membuat satu set kartu pos dari seri karya terbarunya dan saya yakin pasti banyak sekali yang membelinya. Dan selain menguntungkan buat si seniman, kartu pos memang bisa jadi salah satu bentuk artist merchandise yang harganya paling terjangkau dan mudah didistribusikan bahkan bila dibandingkan dengan kaos sekalipun. Setuju, sayangku?
Namun diluar fakta diatas kalau kita di Indonesia bicara tentang kartu pos dan karya seni, ada sebuah peran yang saya baru sadari akhir-akhir ini setelah bolak-balik ke kantor pos beberapa kali dalam sebulan mengirim kartu pos buatan saya kemana-mana. Saya sadar kalau beberapa kali saya terpicu untuk menulis kartu pos karena memang ingin mengirimkannya kepada orang lain. Artinya juga, saya yang bisa jadi tadinya malas menulis kartu pos jadinya mulai menemukan alasan baru untuk menulis kartu pos lagi. Berarti juga saya membantu kelangsungan hidup kantor pos serta bentuk komunikasi yang katanya semakin mudah ditinggalkan karena kemajuan teknologi saat ini.
Semuanya dengan selembar kartu pos dengan karya seni diatasnya. Jadi bayangkan apa yang bisa dilakukan dengan berlembar-lembar kartu pos dengan karya teman-teman semua disini. Karena itu pula pameran ini akan menjadi awal sebuah proyek kartu pos yang nantinya setiap tahun akan diharapkan bisa terus berjalan dengan tema-tema yang berbeda namun dengan medium yang sama. Membuat saya tiba-tiba ingat kalimat yang biasa digunakan oleh banyak crafter di luar sana namun saya plesetkan menjadi,
“Saving the world, one art poskart at that time”.
Ika Vantiani
